Social Icons


Selasa, 21 Mei 2013

Manajemen Berbasis Sekolah dan Mutu Pendidikan (bag 3)

C. Manajemen Berbasis Sekolah dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan

Masih ada pertanyaan yang mengganjal dari pakar pendidikan dan terutama para praktisi, yaitu 'Apakah MBS secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan ?' atau dapatkah menjamin peningkatan mutu pendidikan ? pertanyaan ini secara spontan dapat dijawab, 'tentu tidak'.
Mininmnya penelitian atau studi tentang implementasi MBS menyebabkan sulit untuk  mencari justifikasi (alasan) empirik tentang efektivitas  penerapan MBS meskipun program ini cepat meluas diterapkan di berbagai negara.

Cheng dalam School Effectiveness and school-Based Management (119; h. 59-63), melaporkan profit keefektipan MBS dibanding sekolah yang ia sebut tradisional, dari penelitian yang ia lakukan terhadap 241 sekolah lanjutan  yang dibantu (76 % dari seluruh populasi), 127 pengawas sekolah, 204 kepala sekolah, dan 6.300 guru. Kesimpulan penelitian ini yang dilakukan adaah sebgai berikut;
...the profile of the schools in the school-based type is very different from that of the external control type in nearly all the measures of teacher performance, principal leadership and organizational performance, except formalization. In those school-based type schools, teachers tend to show higher sense of efficacy, sense of community, and professional interest and principle tend to have a stranger leadership in terms of structural, cultural, human, political and educational aspect. Principle-teachers relationship is positive and organizational effectiveness is high. There is strong sharing of school goals, values and beliefs among school members. Decision making is decentrelized and teachers participation is encouraged.
Hasil studitersebut hanya memberikan karakteristik atau indikator efektivitas MBS yang diterapkan di sekoolah-sekolah hongkong, ia tidak melaporkan sejauh mana MBS dapat meningkatkan prestasi akademis siswa, seperti yang sering dituntut banyak pihak meskipun konsep mutu yang sudah didiskusikan jauh lebih luas daripada sekedar  hasil ujian.

pengaruh positive MBS terhadap pencapaian hasil belajar siswa dikemukakan oleh  Neaal (1991; h. 44-45) sebagai berikut:
However, there is some evidence which indicates that School-Based Management does improve student learning. School-Based Management requires the meaningful involvement of parents in the affairs of the schools. Now, there are many reasons to work cloesely with parents under School-Based Management, but the most important reason is that parent involvement has a powerful effect on student achievement. Not only do children whose parents are involeved do better throughout their entire school careers, but school that work well with families have lower drop-out rates and higher test scores. In 1982, The national Committee for Citizen  Education (NICE) published The Evidence Grows, an annotated bibliography describing 35 studies on the object. the findings were all positives-parent involevement in almost any from improves student achievement.

Dalam kutipan tersebut, Richard G. Neal menyatakan bahwa perbaikan dan peningkatan pencapaian hasil belajar siswa lebih dihbungkan dengan keterlibatan orang tua di dalam pengelolaan pendidikan di sekolah, yang merupakan salah satu praasyarat atau elemen penting di dalam penerapan MBS. Dalam konteks Indonesia, keterlibatan orang tua diwadahi melalui Komite Sekolah. Golarz, Raymond J. dan Golarz, Marion J, dalam The Power of Participation (1995) mendukung peran keterlibatan orang tua dan pengelolaan sekolah yang partisipatif dengan mengemukakan tiga karakteristik sekolah efektif di antara ciri-ciri yang dikemukakan yaitu (1) High levels of parental involvement and support, (2) Collaboration collegial insturctural planning, (3) Individual school autonomy and resulting flexibility.

Neal mempertegas pentingnya keterlibatan orang tua yang intensif dalam kaitan dengan prestasi siswa dalam pernyataan lebih lanjut sebagai berikut;
In 1987 , NICE did an update, The Eviddence Conntinues to Grow: Parent Involvement Improves Student Achievement. It includes 49 studies that, taken together, place the conclusion beyond dispute. Programs that include strong parent involvement produce student who perform better than otherwise identical programs that do  not involve parents. Schools that relate well to their communities have student bodies that outpperform other school. Childdren whose parents help them at home and stay in touch with the school score higher than children of similar aptitude and familiy background whose parents are not involved. School where children are failing, improve dramatically when parents are called to help. The main benefits, then, of parents involvement are: 1) Higher grades and test scores; 2) Long term academic improvement; 3) Positive attitudes and behavior; 4) More succesful programs, and 5) More effective schol.
Umaedi (2004) menyebutkan bahwa di New Zealand, yang menerapkan MBS secara luas (hampir seluruh), belum ada laporan khusus tentang sejauhmana pengaruh MBS terhadap peningkatan prestasi siswa. Alasan mereka untuk tidak kembali ke model lama setelah melaksanakan kurang lebih 10 tahun  terutama karena kepuasan masyarakat dalam turut berpartisipasi menentukan penyelenggaraan pendidikan, turut mengawasi, dan keyakinan adanya efisiensi penggunaan sumber daya pendidikan serta sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Apabila dibandingkan antara prestasi akademis siswa pada sekolah yang melaksanakan MBS dan tidak di negara-negara Barat di duga perbedaannya akan sangat kecil (tidak signifikan). Hal ini disebabkan 2 hal, Pertama,  sekolah-sekolah di Barat pada umumya sudah lebih transaparan karena dewan pendidikan atau school board  pada tingkat distrik dipilih langsung oleh masyarakat, dan dewan pendidikan tersebut memiliki kewenangan mangangkat dan memberhentikan superintendent atau semacam Kepala Dinas Pendidikan. Oleh karena posisinya yang demikian, kepala dinas pendidikan di setiap distrik berupaya keras menunjukan kinerjanya untuk tidak kalah prestasi dengan distrik lain, dan akhirnya untuk diangkat kembali. Demikian pula peran orang tua melalui PTA (parent teachers association), sudah sangat efektif, mentradisi.

Kedua,  peran dan posisi guru sangat kuat melalui teachers union atau persatuan guru sehingga praktis penyelenggaraan dan pengelolaan sekolah tidak dapat bertindak semena-mena terhadap guru. Keterlibatan guru di dalam pengambilan keputusan pada level sekolah bukan suatu hal yang sama sekali baru atau karena pengenalan MBS. keluhan-keluhan atau pengaduan masyarakat sudah terbiasa ditangani dan direspon secara semestinya. Suatu perbedaan yang dirasakan dengan diterapkannya MBS. Dengan demikian hanyalah kepuasan masyarakat karena mereka memperoleh hak kontrol yang lebih luas dan langsung terhadap lembaga sekolah, sementara sebelumnya hanya melalui 'dewan sekolah' atau school board. Tambahan kepuasan juga dialami sekolah atas kewenangan yang diperoleh dalam penggunaan alokasi yang diberkian secara block grant untuk operasional sekolah sesuai kebutuhan sekolah yang bersangkutan.

Berbeda dengan kondisi sekolah-sekolah yang ada di negeri maju terutama di negeri barat, pelaksanaan MBS di Indonesia merpakan perubahan yang cukup besar. Sebelumnya kurikuluum dan panduan-panduan pelaksanaan  yang dibuat dan berlaku secara nasional, komponen-komponen dan prasarana juga dilakukan secara terpusat, dengan demikian pula panduan pendidikan. Sementara itu, peran orang tua sebatas dalam wadah Badan Pembantu Pelaksana Pendidikan (BP3) yang lebih menitikberatkan pada pemberian /diminta bantuan finansial daripada masalah aspirasi masyarakat terhadap sekolah. perubahan pendekatan pengelolaan sekolah tidak dapat serentak / serta merta, melainkan harus dilaksanakan secara bertahap dan sesuai dengan konteks Indonesia.

Manajemen mutu berbasis sekolah berupaya menawarkan model pengelolaan sekolah sesuai kaidah/konsep peningkatan mutu secara berkelanjutan yang mengadaptasi prinsip-prinsip sekolah efektif dan manajemen mutu terpadu. dengan demikian, model peningkatan mutu pada tingkat sekolah enjadi suatu budaya  sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah dengan kerangka dasar MBS. Apabila upaya ini dapat terlaksana dengan baik maka peningkatan mutu pendidikan mempunyai kerangka model pembentukan culture  'mengajar keunggulan' (strive for exxecence),  dan tidak terjadi secara untunguntungan (speculative), seperti sebelumnya. Penempatan atau penggantian Kepala Sekolah baru tidak akan banyak mempengaruhi tradisi yang sudah terbentuk di antara warga sekolah dan masyarakat pendukungnya (komite sekolah), bahkan pemimpin baru tinggal memperkuat dan mendinamisasi program-program yang sudah berjalan.

Dalam hubungan ini, MBS sangat penting dilihat dari kacamata pengelolaan sekolah sebagai kerangka 9garis besar0 manajemen yang memenhi tuntutan akuntabilitas publik, transparan/terbuka, demokratik, dan partisipatif, sedangkan strategi operasional uuntuk meningkatkan mutu, perlu penerapan model sekolah efektif serta nilai-nilai manajemen mutu terpadu. Dalam upaya ini ada dua tataran konsep yang dapat dilakukan. Pertama,  MBS sebagai kerangka dasar (prasyarat) yang harus dipenuhi elemen-elemen pokoknya. Kedua, strategi operasional peningkatan mutu yang dalam hal ini digunakan model sekolah efektif  serta sebagian elemen atau nilai-nilai dari manajemen mutu terpadu. Strategi operasional adalah seni atau kiat merencanakan dan mengarahkan suatu program dan melaksanakannya sesuai fokus diharapkan dengan berlandaskan misi organisasi yang bersangkutan. Jadi MBS saja belum cukup sebagai garansi mutu meskipun diketahui bahwa semua model manajemen selalu bertujuan untuk mencapai efektivitas dan efisiensi.


====================================================================

Sumber Bacaan


Departemen Pendidikan Nasional Ri. (2002). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran dan pengajaran Kontekstual; Buku 5.  Jakarta: Depdiknas.
Hadiyanto, dkk. (2004).  Study Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMP. Jakarta: Puslitjak Balitbang Depdiknas.
Sallis, Edward.  (1993). Total Quality Management in Educatian.  London: Kogan Page.
Umaedi. (2004). Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah. Mengelola Pendidikan Daam Era Masyarakat berubah. Jakarta: Pusat Kajian Manajemen Mutu Pendidikan.
Umaedi, Hadiyanto, Siswantrari. (2007). Manajemen Berbasis Sekolah (edisi 1). Jakarta; Universitas Terbuka

0 komentar:

Poskan Komentar